Saya pernah mengalami patah tulang. Sebuah pengalaman berharga di
dalam hidup saya. Saya mengalami patah tulang pada bagian paha dan
tangan. Lalu rusuk lepas dari tempatnya 1 buah, lutut retak dan telapak
kaki juga retak. Saya menulis artikel ini untuk memberi info ataupun
sharing bagi orang ataupun keluarga dekatnya yang mungkin pernah
mengalami patah tulang juga.
Kejadiannya bermula sewaktu saya dan teman saya pergi keluar kota
dengan sepeda motor. Namun belum sampai tujuan kami mengalami kecelakaan
alias tabrakan dengan sebuah mobil. Padahal sebelum saya pergi, saya
sudah baca doa. Ya mungkin sudah jalannya seperti itu. Tapi saya akui,
saya juga laju mengendarai sepeda motornya. Akibatnya fatal bagi saya
dan teman saya. Teman saya patah tulang paha (tertutup), saya patah
tulang paha (terbuka) dan lainnya yang sudah saya bilang di awal tadi.
Saya pikir saya sudah mau tewas dalam kecelakaan itu. Karena saya
merasa ngantuk yang amat sangat.
Dan saya pun tidak sadar apa yang terjadi, karena saya pingsan.
Bangun – bangun sudah terasa sakit dan tidak bisa gerak. Serta saya
tidak bisa bangun dari tidur karena ada pendarahan dalam di dada saya
akibat rusuk yang lepas 1 dari tempatnya. Akibatnya saya sulit bernafas.
Untungnya ada orang yang menolong saya dan entah beruntung atau
kebetulan orang itu cukup mengerti medis. Saya pun diberi spalak
(semacam kayu untuk menahan agar bagian yang patah tidak gerak – gerak)
dan kepala saya diganjal sedikit agar mudah bernafas.
Singkat cerita saya dibawa ambulans ke rumah sakit dan saya akhirnya
menghirup oksigen dengan bantuan alat oksigen serta diobati dan dijahit
luka – lukanya. Saya disuruh puasa oleh dokter karena akan dioperasi,
tapi batal karena ada pendarahan. Teman saya pun juga begitu, tapi
karena hanya patah tulang tidak ada komplikasi lainnya, teman saya
memutuskan untuk pulang dan berobat pada alternatif. Setelah 4 hari di
RS saya juga memutuskan untuk pulang berobat di alternaif bersama teman
saya.
Sekitar kurang lebih 2 bulanan bagian yang patah sudah agak
mendingan. Namun disini ada kekurangan pengobatan alternaif yang kami
jalani, yakni sambungan tulang belum tentu lurus pasti. Dan teman saya
yang merasa sambungannya miring, akhirnya operasi dan pasang pen. Kalau
saya tangan saya miring, tapi ya dijadikan pelajaran saja.
Disini ada sebuah fakta bahwa kakak saya juga pernah mengalami patah
tulang. Dan ada seseorang yang berkata, “wah, keluarganya pembalap.”
Saya sempat tersenyum kecil, namun saya juga merenungi nasib saya.
Apalagi saya bersama teman saya. Tepatnya sahabat saya dari kecil. Saya
juga mendengar dari pak haji, kalau patah bagian kiri biasanya sering
melawan ayah dan kalau kanan biasanya melawan ibu. Saya sih percaya
tidak percaya, namun pernyataan itu seakan benar.PENGALAMAN TERBESAR DALAM HIDUP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar